Tuesday, January 09, 2007

LESSON #2: TULANG KERING VS TIANG LISTRIK

KEESOKAN HARI SETELAH PERISTIWA LESSON #1

Rabu pagi, sebelum berangkat kerja aku dan pak Wasit janjian untuk bener-bener learning by doing. Baju yang kupake setelan abu-abu cenderung putih, salah satu jajaran baju terbaru yang akhir-akhir ini sering dipake karena bahannya enak, jaitannya cukup nyaman dan masih bau anyar. Tempatnya sudah ditetapkan, jalan Dakota, deket rumah. Jalannya cukup lebar dan panjang, meskipun banyak polisi tidurnya, tapi the best place yang memungkinkan pada saat tersebut ya cuma itu.

So the lesson begun. Kuncinya puter kanan, liat indikator netral, starter, setel gigi satu, trus di gas.... pelan-pelan dulu aja. Ngeeeeengggg..... ajaib.... motornya bisa maju!!!!
Deg... deg... deg...Setiranku belom stabil, belok kanan, kiri, kanan lagi, kiri lagi, cari keseimbangan.
”Tambahin gasnya, itu karena tenaganya kurang kuat jadinya kurang seimbang.” kata Pak Wasit.
Gasnya ditambahin lagi...
Hmm.... bener ternyata, jadi lebih stabil, nggak harus curi-curi belok kanan kiri untuk menjaga kestabilan.
Pagi itu hampir seluruh jalan Dakota dijajaki, dengan sedikit coba-coba gaya njejak-tanah-kaki-satu tea.
Pelajaran hari itu terhitung lancar sampai ....... waktunya tiba untuk masuk kantor.
”Ok, hari ini cukup dulu, meskipun target mempelajari ganti-gigi belom bisa dilakukan, saya pikir belajar ngegas dulu aja udah cukup.” kata pak Wasit.
Saat itu rute ngelewatin samping TK al Ikhlas. Beberapa meter jauhnya di depan kami ada mobil diparkir, seorang ayah nganterin anaknya masuk TK.
”Ok Nis berenti aja dulu di depan!”
”Ok Pak!”
Yang terjadi beberapa nanosecond kemudian adalah .....

1 nanosecond ....
Syiuuuut.....

2 nanosecond ....
ngeeeengg......

3 nanosecond ....
DHUAKKKK!!!!
Awww.... ttttulang kkkeriiinggg ku......

Tembok luar TK itu keliatan semakin cepet ngedeketin muka, dan beberapa nanosecond kemudian posisi yang terjadi adalah ban depan motor nyelip (lebih tepat disebut kejepit) diantara tiang listrik dan tembok TK, aku jatoh terduduk di atas solokan (yang untungnya ada sekat besinya), pak Wasit masih duduk di tempatnya sambil bilang , ”Nggak pa-pa Nis?”
”Nggak pa-pa.” tapi jantung serasa pindah ke tulang kering, detaknya pun mulai berirama, nyud ... nyud ... nyud ...Akhir pelajaran yang menyedihkan... hicks...
Shock... tapi langsung berdiri mengingat baju yang kupake masih baru dan terduduk lama diatas sekat besi berarti semakin membuat kotor baju tersebut. Lagian, meskipun udah jatoh tapi karena cukup banyak orang yang ngeliatin jadi teuteup ... harus jaim (halah!).
Sementara ngebersihin baju dan memperbaiki penampilan, juga sambil nunggu pak Wasit berusaha keras mengeluarkan ban depan motor dari jepitan tembok dan tiang listrik, si bapak yang tadi nganterin anaknya ke TK menghampiri dengan tatapan setengah tiba setengah heran sambil nanya, ”Itu... nggak pa-pa? Lagi belajar motor ya??”
Jawaban Annis sambil senyum, ”Nggak pa-pa, lumayan siiih tulang kering... tapi... nggak pa-pa kok!”

PESAN SPONSOR: always ’jaim’ where ever you are. ‘Jaim’ is good for your health. A ‘jaim’ a day keeps the doctor away. Jaim jaim jaim…

“Pak, masih mau ngajarin aku motor kan?”
”Pak, jadi harus ke bengkel dong ya?”
”Haduh... gimana dong Pak?”

Baju yang kupake udah setengah kotor, harus balik lagi ke rumah untuk ganti baju. Lain kali kalo belajar motor mending pake baju butut ajah.

Sepanjang perjalanan ke rumah (untuk ganti baju) dan ke kantor kita ngebahas kecelakaan tadi. Penyebabnya disinyalir karena aku shock ngeliat mobil di depan. Padahal at the beginning I learn the lesson smoothly, tapi diakhiri dengan insiden yang tragis (fyuh..).Sepanjang perjalanan itu pula aku nggak bisa konsen, bahkan sepanjang hari. Waktu ngadepin komputer yang kebayang cuma cuplikan peristiwa betapa cepatnya mukaku mendekati tembok TK dan tiba-tiba terhenyak diatas solokan. Cuplikannya berulang-ulang dan kian menyebalkan, namun entah kenapa nggak bisa dihilangkan. Ditambah lagi si tulang kering yang masih nyud nyudan, bengkak dan meninggalkan luka yang rada eye catching, meskipun sekarang udah kempes dan less eye catching.

Tapi nggak ngebikin kamu kapok belajar motor khaaan?” tanya Nina waktu aku ceritain insiden itu.

”Taaaau deh!”

Selama beberapa hari kemudian kejadian itu jadi isu hangat intern kelompok dan aku jadi bulan-bulanan temen-temen. Dasar nasib... hicks.... Malah ada yang ngusulin pake B****X aja karena gak usah pake SIM.

Lesson #2 tamat

LESSON #1: BELAJAR NAIK MOTOR

Setelah menimbang dan memutuskan hal-hal berikut : (1) di antara temen-temen se-geng (baca: poklit ION-PROPAGELORA) cuma 2 orang yang nggak punya motor – salah satunya saya –; (2) kurangnya mobilitas pribadi disebabkan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana (in another words: kalo naek angkot bakalan makan waktu lama, suntuk di jalan karena lalu lintas macet dan boros karena semakin lama ongkos angkot kian melambung); (3) di suatu siang pa Dani nyeletuk “Kenapa nggak pake motor aja?? Ongkos yang keluar sama kok, malah lebih hemat waktu!”; (4) malu ngerepotin Nina karena kemana-mana minta anter terus; (5) kabita ngeliat mobilitas mbak Indah sama Nina; (6) sedang baca buku MODEL MANUSIA MUSLIM ABAD XXI tulisan M. Anis Matta, dari sana terinspirasi untuk jadi manusia yang bisa menjawab tantangan jaman (ceile...), dan pengejawantahan sy pribadi terhadap that kind of human salah satunya adalah dengan cara bisa mengendarai motor, yang juga berarti mengefektifkan waktu, tenaga, dan biaya.

fyuh....... pertimbangan yang cukup alot

akhirnya memutuskan untuk.... (sound effect: deng deng deng deng.... terereret tereeet)

MEMILIKI MOTOR.

Yah... tentu saja step by step atuh, nggak mungkin sekaligus. Step pertama yang ditempuh adalah belajar motor dulu. Setelah melihat anak didik (baca: Nina) pak Wasit cukup sukses, akhirnya memutuskan untuk daftar. “Pak, aku ajarin motor dooong…”


~KEESOKAN HARI SETELAH JAM PULANG~
Rencananya sore itu mau langsung learning by doing, tapi karena hari hujan dan keadaan tidak memungkinkan, maka les hari itu cuma diisi teori. ”Yang ini gas, ini rem tangan, ini rem kaki, ini buat ganti gigi, ini indikator buat nunjukin kalo kondisi netral… bla bla bla…” sampelnya adalah motor pak Wasit sendiri, Y****A biru tipenya apaaa gituh...

“Pak, kekhawatiran saya ketika naik motor adalah kondisi kaki yang ketika motor berenti nggak bisa njejak tanah, sieun labuh, kalo Nina kan tinggi dia, kakinya panjang, jadi kedua kakinya bisa njejak tanah begitu dia berenti.”

“Ya kamu pake satu kaki aja.... ni kayak gini niih.. ”
Pak Wasit ngasih contoh njejak-tanah-kaki-satu dengan kaki kanan dan kirinya secara bergantian. Keliatannya sih gampang diikutin tapi sampe tulisan ini dipublish masih nggak kebayang hal itu bisa dilakukan oleh kaki-kakiku yang kurang panjang.

Hari itu pak Wasit men-tutor aku dengan didampingi pak Nandang dan pak Rizal, yang juga ngasih tips-tips seputar bagaimana-mengendarai-motor-dengan-baik.

Lesson #1 tamat

Wednesday, April 12, 2006

MENDEFINISIKAN KESUKSESAN

Apa yang terbayang di benak Anda ketika memikirkan tentang kesuksesan? Uang? Karir? Prestise? Definisi yang berbeda akan muncul dari kepala yang berbeda pula. Tapi, menurut saya sendiri, sukses adalah sebuah standardisasi. Salah satu standar kebahagian bagi seseorang. Tolong digaris bawahi untuk kata-kata ‘salah satu’. Ini berarti, kesuksesan bukan penilaian baku dan satu-satunya terhadap sebuah kebahagiaan. Bersifat relatif, tidak mutlak. Sukses bisa jadi merupakan sarana aktualisasi diri bagi seseorang untuk diakui oleh lingkungannya.

Ketika duduk di bangku SMP, definisi sukses saya adalah menjadi seorang artis cantik yang dipuja banyak orang. Bersuara merdu, dan kemana-mana selalu disanjung. Sepertinya menyenangkan jika semua orang mengenal kita. Selalu dikerubuti banyak orang untuk dimintai tanda tangan.
Beranjak ke bangku SMA, defini sukses saya berubah menjadi seorang ilmuwan yang sedang duduk di laboratorium mengamati preparat dengan mikroskop elektron yang pembesarannya ribuan kali. Lalu saya mencampur-campurkan cairan-cairan kimia sehingga akhirnya menjadi penemu obat HIV/AIDS paling mujarab.
Ketika saya kuliah, definisi sukses saya kembali berubah. Sekarang kesuksesan lebih digambarkan ketika saya berhasil masuk ke SCHLUMBERGER dan mendapatkan gaji dalam US dollar. Mempunyai banyak teman bule, dan mungkin menikah dengan salah satunya untuk memperbaiki keturunan. Hihihi, agak sedikit naïf memang.
Sekarang.....
Saya bukan lagi anak SMP, bukan juga SMA, bahkan agak sedikit tua jika disebut anak kuliah. Lalu, apa definisi kesuksesan saya hari ini?
Sejujurnya, saya sendiri bingung.
Apakah parameternya masih uang-karir-prestise? Mengapa susah sekali menentukannya? Jangan-jangan..... kesuksesan yang selama ini terdefinisi di benak saya salah, sehingga sulit sekali untuk mencapainya. Atau... sukses sebenarnya bukan standar kebahagiaan, melainkan kebahagiaan itu sendiri. Jadi, ketika seseorang telah mencapai kesuksesan, pada saat yang bersamaan ia juga menjadi orang yang berbahagia. Atau mungkin, kebahagian itu tidak menuntut sebuah kesuksesan. Jika Anda bahagia maka Anda bahagia, meskipun Anda tidak sukses. Lalu definisi bahagia itu sendiri apa? Kok jadi makin bingung ya???
Hmmmm... sepertinya saya butuh Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mungkin itu saja tidak cukup. Sepertinya saya juga butuh second, third, fourth, fifth, sixth, bahkan seventh opinion.
Oleh karena itu, dibawah ini saya tuliskan jawaban beberapa orang yang saya tanyai pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Apa definisi sukses menurut Anda?
2. Apa parameter kesuksesan Anda? (Contoh, ketika saya kaya maka saya sukses, berarti parameternya adalah uang/harta)

3. Menurut Anda, apakah Anda telah sukses?
4. Jika belum, cara apa yang akan Anda tempuh untuk mencapai kesuksesan tersebut?
5. Apakah sukses adalah hal mutlak untuk Anda?

Inilah jawaban-jawaban mereka:
Prof. The Houw Liong: Guru besar fisika ITB, menjadi salah satu narasumber di PUSFATSAINSA LAPAN.
1. Seseorang itu diberi potensi oleh Tuhan, ketika dia bisa mengembangkan potensinya sepenuhnya, berarti dia sukses. Dalam istilah psikologi “self actualization”. Jadi dia bisa self actualize sampai puncak. Bagi saya itu sukses.
2. Kepuasan dari dalam. Tentu saja manusia punya kebutuhan yang bertahap, kebutuhan fisik yang harus dipenuhi. Tapi selanjutnya itu tidak cukup, (ada) kebutuhan kepuasan psikologi dan spiritual, jadi sebetulnya ke arah sana. Kalau dia bisa berkembang secara psikologis dan spiritual, itu kepuasannya dari dalam. Bagi saya ukurannya tidak secara materi. Secara materi ya kita harus terpenuhi kebutuhan fisik saja, tapi lebih dari itu adalah terpenuhi secara spiritual dan psikologi.
3. Bagi saya, kalau dilihat perjalanan hidup sebenarnya saya mencapai puncak. Pendidikan formal maupun jenjang kepangkatan mencapai yang tertinggi. Saya puas bisa mengembangkan sampai hampir maksimal.
4. (tidak ditanyakan karena jawaban no. 3 mengindikasikan sudah sukses)
5. Kalau kita tidak bisa mengembangkan apa yang diberikan Tuhan, potensinya itu terpendam, maka hidupnya tidak akan merasa penuh.
Pak Jiyo: PI di kantor. Tutor handal (at least for me), peneliti sekaligus seniman yang sangat berfilsafat jawa. Hobi baca dan tiap kali dipinjami buku selalu dikembalikan dalam keadaan telah tersampul rapi. Hehehe...
1. Sukses menurut saya itu menikmati apa yang ada. Kita kadang punya target yang telah ditentukan/ditetapkan, tapi dalam perjalanannya tidak mulus sesuai dengan yang kita inginkan. Dalam perjalanan pasti ada modifikasi dari target. Sepanjang itu bisa dicapai, itu menurut saya sudah sukses.
2. Saya berguna untuk orang lain.
3. Belum 100% sukses. Masih ada keinginan yang masih diusahakan.
4. Cara yang akan ditempuh tentu saja dengan berusaha. Orang ingin mencapai sesuatu kalau tidak ada usaha terus gagal ya itu belum ada proses untuk mencapai itu. Selama prosesnya sudah diikuti, tetapi mungkin ada pergeseran, artinya targetnya belum tercapai 100%, kalau menurut saya ya sudah berjalan, ya sukses.
5. Tidak mutlak. Saya bukan orang “keukeuh” yang kalau menentukan A berarti harus A, geser sedikit jadi B tidak apa-apa lah, ada toleransinya. Termasuk parameter sukses pun demikian, bisa bergeser karena ada proses. Tidak ada yang mutlak kecuali satu, keyakinan. Tapi kalau target-target yang sifatnya duniawi, penelitian, pekerjaan menurut saya pasti bergeser, karena yang saya alami begitu. Yang harus disadari bahwa kita merencanakan, Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik buat kita, mangkanya ada pergeseran, tidak bisa mutlak.
Kang Lafin: Kakak kelas di POLTEK. Testimonial teman-temannya di Friendster (http://www.friendster.com/user.php?uid=7611180) membuat beliau menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang saya pilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.
1. Sukses adalah ketika kita membutuhkan sesuatu, kebutuhan itu terpenuhi.
2. (tidak sempat ditanyakan)
3. Alhamdullilah sudah
4. Berdoa untuk minta petunjuk, dan berikhtiar untuk menyempurnakan usahanya..
5. ehmmm lihat point 1
Prof. Res. Ir. Siti Asiati, Pusfatsatklim LAPAN.
1. Seseorang itu dikatakan sukses apabila ia sudah bisa berbuat sesuatu dengan jalur yang dilalui atau sesuai dengan jalur kerja yang memang menjadi tugasnya.
2. Semua orang pasti punya parameter kesuksesan. Tidak mungkin menyebut dirinya sukses kalau dia tidak mempunyai kriteria tertentu. Untuk seorang peneliti, tingkat jenjang peneliti yang tertinggi itu kan sebagai Prof. Res., boleh dikatakan sudah mencapai tingkat yang diharapkan oleh peneliti, tapi sukses betul itu adalah juga memberikan manfaat bagi lingkungan, misalnya untuk kantor, instansi lain, dan area sekitar, sesuai kemampuan kita. Contohnya dengan menjadi tim penyusun status lingkungan hidup Indonesia, juga sering diundang untuk sosialisasi pengetahuan di bidang atmosfer, misalnya sosialisasi perlindungan lapisan ozon, ini berarti saya sudah memberikan manfaat dengan memberi penjelasan pada orang lain sehingga ozon kita tidak berlubang.
3. Sukses betul belum, nggak sukses juga nggak. Ya cukup-cukup saja.
4. Karena saya bekerja di sains, ada rencana untuk menulis buku, memasukkan lebih banyak lagi artikel ke koran dan majalah, misalnya tentang krisis ozon di Indonesia dan apa yang sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
5. Nggak. Kalau saya hidup itu menjalani sesuai dengan jalur hidup yang sudah ada, kalau bisa mencapai puncak ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi yang penting itu sudah bekerja sesuai jalur yang ada dan memenuhi tugas dan kewajiban.
Pak Adi: My other PI besides Pak Jiyo. Smart. Sangat potensial untuk sukses.
1. Sangat subjektif. Sukses itu kan menurut pendapat dan pengamatan orang lain. Kalau menurut saya, seseorang tidak mungkin mengatakan dirinya sudah sukses. Contohnya saya, menilai kesuksesan seseorang melalui hasil pencapaiannya, kepada sesuatu baik itu yang objektif maupun yang subjektif. Tapi sukses bagi saya sederhana saja, yaitu bisa mandiri dan sudah puas dengan dirinya sendiri.
2. Penghormatan orang lain terhadap diri saya, prestise. Kalau sekedar materi saja berarti seseorang itu kurang maksimal. Kalau sudah mencapai tahap prestise, otomatis semuanya sudah tercakup, baik materi maupun karir, karena itu merupakan penilaian orang lain, dan penilaian orang lain itu berdasarkan hal-hal yang menjadi standar tolak ukur masyarakat.
3. Belum lah! Far enough to reach.
4. Saya harus sekolah lagi dan harus di luar negeri. Karena dengan mempunyai pengalaman keluar negeri, wawasan akan bertambah, juga akan memiliki kolega-kolega sehingga dapat memperluas jaringan.
5. Ya jelas dong! Mutlak sekali. Itu menjadi cambuk di dalam menjalani kehidupan. Jadi selain ibadah juga tujuan utamanya mencapai kesuksesan itu. Dunia dan akhirat harus berjalan secara paralel dan saling mendukung, tidak menginterferensi satu sama lain.
Pak XXX: Teman kantor. Jago komputer. Baru keterima jadi PNS (Selamat ya!). Asumsi: diterima PNS merupakan salah satu pencapaian kesuksesan. Oleh karena itu jawaban beliau sangat diharapkan.
1. Sukses itu kan mapan, terpenuhi segala kebutuhan, tidak kekurangan, baik dari jenjang karir, materi, maupun yang lainnya. Semuanya terpenuhi dan sesuai dengan cita-cita.
2. Dari dua sisi, lahir dan batin, duniawi dan agamawi.
3. Kalau dilihat dari keterimanya saya jadi PNS, itu berarti salah satu cita-cita saya telah terkabul, tapi belum sukses.
4. Segala macam cara, tapi yang halal.
5. Tidak. Karena kalau tidak sukses nanti kecewa, itu namanya kan ngotot. Jangan ngoyo ngejar kesuksesan, sesuaikan dengan kemampuan. Kalau kita mampunya segitu, berarti suksesnya ya segitu.
Mbak Rasdewita Kesumaningrum, a.k.a. Mei. Temen kantor. Smart girl.
1. Sukses? Hmm... sukses itu ketika berhasil mencapai cita-cita, target-target, ukuran berhasil. kalo orang lain bilang sukses, berarti berdasarkan ukuran dia, kalo kita bilang hidup kita sukses, berarti kita punya ukuran ksuksesan sendiri. Tiap-tiap orang punya ukuran masing-masing. But for me, kesuksesan harus diimbangi kebahagiaan.
2. Parameternya, yah kemampuan menghidupi diri sendiri, serta berhasil mengembangkan kualitas diri.
3. Yah belum atuh!
4. Caranya secara spesifik ya tergantung keadaan, tapi niatnya untuk mencapai kesuksesan itu harus kuat, harus proaktif, harus tegar dan berani.
5. kalo hidup ga sukses, lantas apa artinya? ini sukses dalam arti luas loh ya, mencapai tujuan hidup, bukan sukses dalam ukuran harta.

Nah, itu semua jawaban-jawaban mereka. Bagaimana dengan Anda? Mau berbagi definisi kesuksesan? Just write down your comment below. Selamat mendefinisikan kesuksesan Anda sendiri. Semoga bermanfaat!!!