Tuesday, January 09, 2007

LESSON #1: BELAJAR NAIK MOTOR

Setelah menimbang dan memutuskan hal-hal berikut : (1) di antara temen-temen se-geng (baca: poklit ION-PROPAGELORA) cuma 2 orang yang nggak punya motor – salah satunya saya –; (2) kurangnya mobilitas pribadi disebabkan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana (in another words: kalo naek angkot bakalan makan waktu lama, suntuk di jalan karena lalu lintas macet dan boros karena semakin lama ongkos angkot kian melambung); (3) di suatu siang pa Dani nyeletuk “Kenapa nggak pake motor aja?? Ongkos yang keluar sama kok, malah lebih hemat waktu!”; (4) malu ngerepotin Nina karena kemana-mana minta anter terus; (5) kabita ngeliat mobilitas mbak Indah sama Nina; (6) sedang baca buku MODEL MANUSIA MUSLIM ABAD XXI tulisan M. Anis Matta, dari sana terinspirasi untuk jadi manusia yang bisa menjawab tantangan jaman (ceile...), dan pengejawantahan sy pribadi terhadap that kind of human salah satunya adalah dengan cara bisa mengendarai motor, yang juga berarti mengefektifkan waktu, tenaga, dan biaya.

fyuh....... pertimbangan yang cukup alot

akhirnya memutuskan untuk.... (sound effect: deng deng deng deng.... terereret tereeet)

MEMILIKI MOTOR.

Yah... tentu saja step by step atuh, nggak mungkin sekaligus. Step pertama yang ditempuh adalah belajar motor dulu. Setelah melihat anak didik (baca: Nina) pak Wasit cukup sukses, akhirnya memutuskan untuk daftar. “Pak, aku ajarin motor dooong…”


~KEESOKAN HARI SETELAH JAM PULANG~
Rencananya sore itu mau langsung learning by doing, tapi karena hari hujan dan keadaan tidak memungkinkan, maka les hari itu cuma diisi teori. ”Yang ini gas, ini rem tangan, ini rem kaki, ini buat ganti gigi, ini indikator buat nunjukin kalo kondisi netral… bla bla bla…” sampelnya adalah motor pak Wasit sendiri, Y****A biru tipenya apaaa gituh...

“Pak, kekhawatiran saya ketika naik motor adalah kondisi kaki yang ketika motor berenti nggak bisa njejak tanah, sieun labuh, kalo Nina kan tinggi dia, kakinya panjang, jadi kedua kakinya bisa njejak tanah begitu dia berenti.”

“Ya kamu pake satu kaki aja.... ni kayak gini niih.. ”
Pak Wasit ngasih contoh njejak-tanah-kaki-satu dengan kaki kanan dan kirinya secara bergantian. Keliatannya sih gampang diikutin tapi sampe tulisan ini dipublish masih nggak kebayang hal itu bisa dilakukan oleh kaki-kakiku yang kurang panjang.

Hari itu pak Wasit men-tutor aku dengan didampingi pak Nandang dan pak Rizal, yang juga ngasih tips-tips seputar bagaimana-mengendarai-motor-dengan-baik.

Lesson #1 tamat

No comments: