Wednesday, April 12, 2006

MENDEFINISIKAN KESUKSESAN

Apa yang terbayang di benak Anda ketika memikirkan tentang kesuksesan? Uang? Karir? Prestise? Definisi yang berbeda akan muncul dari kepala yang berbeda pula. Tapi, menurut saya sendiri, sukses adalah sebuah standardisasi. Salah satu standar kebahagian bagi seseorang. Tolong digaris bawahi untuk kata-kata ‘salah satu’. Ini berarti, kesuksesan bukan penilaian baku dan satu-satunya terhadap sebuah kebahagiaan. Bersifat relatif, tidak mutlak. Sukses bisa jadi merupakan sarana aktualisasi diri bagi seseorang untuk diakui oleh lingkungannya.

Ketika duduk di bangku SMP, definisi sukses saya adalah menjadi seorang artis cantik yang dipuja banyak orang. Bersuara merdu, dan kemana-mana selalu disanjung. Sepertinya menyenangkan jika semua orang mengenal kita. Selalu dikerubuti banyak orang untuk dimintai tanda tangan.
Beranjak ke bangku SMA, defini sukses saya berubah menjadi seorang ilmuwan yang sedang duduk di laboratorium mengamati preparat dengan mikroskop elektron yang pembesarannya ribuan kali. Lalu saya mencampur-campurkan cairan-cairan kimia sehingga akhirnya menjadi penemu obat HIV/AIDS paling mujarab.
Ketika saya kuliah, definisi sukses saya kembali berubah. Sekarang kesuksesan lebih digambarkan ketika saya berhasil masuk ke SCHLUMBERGER dan mendapatkan gaji dalam US dollar. Mempunyai banyak teman bule, dan mungkin menikah dengan salah satunya untuk memperbaiki keturunan. Hihihi, agak sedikit naïf memang.
Sekarang.....
Saya bukan lagi anak SMP, bukan juga SMA, bahkan agak sedikit tua jika disebut anak kuliah. Lalu, apa definisi kesuksesan saya hari ini?
Sejujurnya, saya sendiri bingung.
Apakah parameternya masih uang-karir-prestise? Mengapa susah sekali menentukannya? Jangan-jangan..... kesuksesan yang selama ini terdefinisi di benak saya salah, sehingga sulit sekali untuk mencapainya. Atau... sukses sebenarnya bukan standar kebahagiaan, melainkan kebahagiaan itu sendiri. Jadi, ketika seseorang telah mencapai kesuksesan, pada saat yang bersamaan ia juga menjadi orang yang berbahagia. Atau mungkin, kebahagian itu tidak menuntut sebuah kesuksesan. Jika Anda bahagia maka Anda bahagia, meskipun Anda tidak sukses. Lalu definisi bahagia itu sendiri apa? Kok jadi makin bingung ya???
Hmmmm... sepertinya saya butuh Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mungkin itu saja tidak cukup. Sepertinya saya juga butuh second, third, fourth, fifth, sixth, bahkan seventh opinion.
Oleh karena itu, dibawah ini saya tuliskan jawaban beberapa orang yang saya tanyai pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Apa definisi sukses menurut Anda?
2. Apa parameter kesuksesan Anda? (Contoh, ketika saya kaya maka saya sukses, berarti parameternya adalah uang/harta)

3. Menurut Anda, apakah Anda telah sukses?
4. Jika belum, cara apa yang akan Anda tempuh untuk mencapai kesuksesan tersebut?
5. Apakah sukses adalah hal mutlak untuk Anda?

Inilah jawaban-jawaban mereka:
Prof. The Houw Liong: Guru besar fisika ITB, menjadi salah satu narasumber di PUSFATSAINSA LAPAN.
1. Seseorang itu diberi potensi oleh Tuhan, ketika dia bisa mengembangkan potensinya sepenuhnya, berarti dia sukses. Dalam istilah psikologi “self actualization”. Jadi dia bisa self actualize sampai puncak. Bagi saya itu sukses.
2. Kepuasan dari dalam. Tentu saja manusia punya kebutuhan yang bertahap, kebutuhan fisik yang harus dipenuhi. Tapi selanjutnya itu tidak cukup, (ada) kebutuhan kepuasan psikologi dan spiritual, jadi sebetulnya ke arah sana. Kalau dia bisa berkembang secara psikologis dan spiritual, itu kepuasannya dari dalam. Bagi saya ukurannya tidak secara materi. Secara materi ya kita harus terpenuhi kebutuhan fisik saja, tapi lebih dari itu adalah terpenuhi secara spiritual dan psikologi.
3. Bagi saya, kalau dilihat perjalanan hidup sebenarnya saya mencapai puncak. Pendidikan formal maupun jenjang kepangkatan mencapai yang tertinggi. Saya puas bisa mengembangkan sampai hampir maksimal.
4. (tidak ditanyakan karena jawaban no. 3 mengindikasikan sudah sukses)
5. Kalau kita tidak bisa mengembangkan apa yang diberikan Tuhan, potensinya itu terpendam, maka hidupnya tidak akan merasa penuh.
Pak Jiyo: PI di kantor. Tutor handal (at least for me), peneliti sekaligus seniman yang sangat berfilsafat jawa. Hobi baca dan tiap kali dipinjami buku selalu dikembalikan dalam keadaan telah tersampul rapi. Hehehe...
1. Sukses menurut saya itu menikmati apa yang ada. Kita kadang punya target yang telah ditentukan/ditetapkan, tapi dalam perjalanannya tidak mulus sesuai dengan yang kita inginkan. Dalam perjalanan pasti ada modifikasi dari target. Sepanjang itu bisa dicapai, itu menurut saya sudah sukses.
2. Saya berguna untuk orang lain.
3. Belum 100% sukses. Masih ada keinginan yang masih diusahakan.
4. Cara yang akan ditempuh tentu saja dengan berusaha. Orang ingin mencapai sesuatu kalau tidak ada usaha terus gagal ya itu belum ada proses untuk mencapai itu. Selama prosesnya sudah diikuti, tetapi mungkin ada pergeseran, artinya targetnya belum tercapai 100%, kalau menurut saya ya sudah berjalan, ya sukses.
5. Tidak mutlak. Saya bukan orang “keukeuh” yang kalau menentukan A berarti harus A, geser sedikit jadi B tidak apa-apa lah, ada toleransinya. Termasuk parameter sukses pun demikian, bisa bergeser karena ada proses. Tidak ada yang mutlak kecuali satu, keyakinan. Tapi kalau target-target yang sifatnya duniawi, penelitian, pekerjaan menurut saya pasti bergeser, karena yang saya alami begitu. Yang harus disadari bahwa kita merencanakan, Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik buat kita, mangkanya ada pergeseran, tidak bisa mutlak.
Kang Lafin: Kakak kelas di POLTEK. Testimonial teman-temannya di Friendster (http://www.friendster.com/user.php?uid=7611180) membuat beliau menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang saya pilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.
1. Sukses adalah ketika kita membutuhkan sesuatu, kebutuhan itu terpenuhi.
2. (tidak sempat ditanyakan)
3. Alhamdullilah sudah
4. Berdoa untuk minta petunjuk, dan berikhtiar untuk menyempurnakan usahanya..
5. ehmmm lihat point 1
Prof. Res. Ir. Siti Asiati, Pusfatsatklim LAPAN.
1. Seseorang itu dikatakan sukses apabila ia sudah bisa berbuat sesuatu dengan jalur yang dilalui atau sesuai dengan jalur kerja yang memang menjadi tugasnya.
2. Semua orang pasti punya parameter kesuksesan. Tidak mungkin menyebut dirinya sukses kalau dia tidak mempunyai kriteria tertentu. Untuk seorang peneliti, tingkat jenjang peneliti yang tertinggi itu kan sebagai Prof. Res., boleh dikatakan sudah mencapai tingkat yang diharapkan oleh peneliti, tapi sukses betul itu adalah juga memberikan manfaat bagi lingkungan, misalnya untuk kantor, instansi lain, dan area sekitar, sesuai kemampuan kita. Contohnya dengan menjadi tim penyusun status lingkungan hidup Indonesia, juga sering diundang untuk sosialisasi pengetahuan di bidang atmosfer, misalnya sosialisasi perlindungan lapisan ozon, ini berarti saya sudah memberikan manfaat dengan memberi penjelasan pada orang lain sehingga ozon kita tidak berlubang.
3. Sukses betul belum, nggak sukses juga nggak. Ya cukup-cukup saja.
4. Karena saya bekerja di sains, ada rencana untuk menulis buku, memasukkan lebih banyak lagi artikel ke koran dan majalah, misalnya tentang krisis ozon di Indonesia dan apa yang sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
5. Nggak. Kalau saya hidup itu menjalani sesuai dengan jalur hidup yang sudah ada, kalau bisa mencapai puncak ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi yang penting itu sudah bekerja sesuai jalur yang ada dan memenuhi tugas dan kewajiban.
Pak Adi: My other PI besides Pak Jiyo. Smart. Sangat potensial untuk sukses.
1. Sangat subjektif. Sukses itu kan menurut pendapat dan pengamatan orang lain. Kalau menurut saya, seseorang tidak mungkin mengatakan dirinya sudah sukses. Contohnya saya, menilai kesuksesan seseorang melalui hasil pencapaiannya, kepada sesuatu baik itu yang objektif maupun yang subjektif. Tapi sukses bagi saya sederhana saja, yaitu bisa mandiri dan sudah puas dengan dirinya sendiri.
2. Penghormatan orang lain terhadap diri saya, prestise. Kalau sekedar materi saja berarti seseorang itu kurang maksimal. Kalau sudah mencapai tahap prestise, otomatis semuanya sudah tercakup, baik materi maupun karir, karena itu merupakan penilaian orang lain, dan penilaian orang lain itu berdasarkan hal-hal yang menjadi standar tolak ukur masyarakat.
3. Belum lah! Far enough to reach.
4. Saya harus sekolah lagi dan harus di luar negeri. Karena dengan mempunyai pengalaman keluar negeri, wawasan akan bertambah, juga akan memiliki kolega-kolega sehingga dapat memperluas jaringan.
5. Ya jelas dong! Mutlak sekali. Itu menjadi cambuk di dalam menjalani kehidupan. Jadi selain ibadah juga tujuan utamanya mencapai kesuksesan itu. Dunia dan akhirat harus berjalan secara paralel dan saling mendukung, tidak menginterferensi satu sama lain.
Pak XXX: Teman kantor. Jago komputer. Baru keterima jadi PNS (Selamat ya!). Asumsi: diterima PNS merupakan salah satu pencapaian kesuksesan. Oleh karena itu jawaban beliau sangat diharapkan.
1. Sukses itu kan mapan, terpenuhi segala kebutuhan, tidak kekurangan, baik dari jenjang karir, materi, maupun yang lainnya. Semuanya terpenuhi dan sesuai dengan cita-cita.
2. Dari dua sisi, lahir dan batin, duniawi dan agamawi.
3. Kalau dilihat dari keterimanya saya jadi PNS, itu berarti salah satu cita-cita saya telah terkabul, tapi belum sukses.
4. Segala macam cara, tapi yang halal.
5. Tidak. Karena kalau tidak sukses nanti kecewa, itu namanya kan ngotot. Jangan ngoyo ngejar kesuksesan, sesuaikan dengan kemampuan. Kalau kita mampunya segitu, berarti suksesnya ya segitu.
Mbak Rasdewita Kesumaningrum, a.k.a. Mei. Temen kantor. Smart girl.
1. Sukses? Hmm... sukses itu ketika berhasil mencapai cita-cita, target-target, ukuran berhasil. kalo orang lain bilang sukses, berarti berdasarkan ukuran dia, kalo kita bilang hidup kita sukses, berarti kita punya ukuran ksuksesan sendiri. Tiap-tiap orang punya ukuran masing-masing. But for me, kesuksesan harus diimbangi kebahagiaan.
2. Parameternya, yah kemampuan menghidupi diri sendiri, serta berhasil mengembangkan kualitas diri.
3. Yah belum atuh!
4. Caranya secara spesifik ya tergantung keadaan, tapi niatnya untuk mencapai kesuksesan itu harus kuat, harus proaktif, harus tegar dan berani.
5. kalo hidup ga sukses, lantas apa artinya? ini sukses dalam arti luas loh ya, mencapai tujuan hidup, bukan sukses dalam ukuran harta.

Nah, itu semua jawaban-jawaban mereka. Bagaimana dengan Anda? Mau berbagi definisi kesuksesan? Just write down your comment below. Selamat mendefinisikan kesuksesan Anda sendiri. Semoga bermanfaat!!!

3 comments:

Anonymous said...

Untuk menambah pengetahuan umum pembaca saya sampaikan pengertian self-actualization menurut Maslow:

Self-actualization (a term originated by Kurt Goldstein) is the instinctual need of humans to make the most of their unique abilities. Maslow described it as follows:

Self Actualization is the intrinsic growth of what is already in the organism, or more accurately, of what the organism is. (Psychological Review, 1949)
Maslow writes the following of self-actualizing people:

They embrace the facts and realities of the world (including themselves) rather than denying or avoiding them.
They are spontaneous in their ideas and actions.
They are creative.
They are interested in solving problems; this often includes the problems of others. Solving these problems is often a key focus in their lives.
They feel a closeness to other people, and generally appreciate life.
They have a system of morality that is fully internalized and independent of external authority.
They judge others without prejudice, in a way that can be termed objective

Salam,
The H L

Anonymous said...

ayo, kapan nge-blog lagi di sini?

Anonymous said...

Hmmm... Ada batasan ga ya dalam aktualisasi diri??
Self actualization kan ada di tingkat paling akhir teori motivasinya Moslow, bisa ga sesorang disebut telah melakukan aktualisasi diri, sementara kebutuhan yang lain belum terpenuhi??
JUst Asking...
Need an answer...
thanks...